Resistensi antibiotik? Kenali Penyebabnya, Cegah Dampaknya!
Sumber : https://youtu.be/-ZX97bIbZBQ
Tahukah kamu bahwa setiap bulan November, WHO mengusung kampanye untuk mencegah resistensi antibiotik. Menurut definisi yang dikeluarkan oleh pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika (CDC.gov: About Antimicrobial Resistance, 2016), antibiotik merupakan suatu obat antimikrobia untuk manusia maupun hewan, yang kerja nya memerangi infeksi akibat serangan bakteri dengan cara membunuh bakteri atau sekadar mencegah perkembangan nya. Antibiotik telah digunakan sejak puluhan tahun yang lalu untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit infeksi dan untuk membantu meningkatkan angka harapan hidup dengan mengubah outcome atau keluaran dari infeksi suatu bakteri.
Namun, apa sebenarnya resistensi antibiotik tersebut? Bagaimana resistensi antibiotik terjadi? Apakah konsumen mengetahui kejadian resistensi obat tersebut? Dan apakah hal tersebut dapat dicegah?
Obat antimikrobia atau antibiotik telah digunakan secara
luas sejak lama, sehingga bakteri/organisme penginfeksi yang seharusnya dibasmi
oleh antibiotik, telah beradaptasi dengan obat tersebut dan menyebabkan
keefektifan nya berkurang.(CDC.gov, 2011) Hal ini disebut juga
sebagai resistensi antibiotik, kondisi dimana suatu bakteri melawan kerja obat
antibiotik pembasmi nya, sehingga obat antibiotik tersebut tak lagi mampu
melawan bakteri penyebab penyakit-penyakit infeksi. Hal ini menyebabkan bakteri
dapat terus berlipat ganda dan menginfeksi tubuh lebih parah seperti yang
dikatakan CDC beserta organisasi NPS Medicinewise; Resistensi antibiotik merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius, laporan global
terkait resistensi antibiotik yang dilakukan organisasi kesehatan dunia (WHO) tahun
2014 menyebutkan bahwa terdapat prevalensi global sebesar 50% untuk tiga jenis
bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik nya dan sebesar 25% prevalensi
global untuk empat jenis bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik nya.
Dengan demikian, WHO menyebut masalah ini menjadi suatu krisis kesehatan
global.
Meski disebut sebagai suatu hal yang timbul secara alami
oleh WHO dalam survey publik multi
negara yang dilakukan nya, terdapat beberapa hal yang dapat mempercepat terjadi
nya resistensi antibiotik terhadap penyakit infeksi yang berkaitan seperti adanya
penggunaan secara berlebih, kesalahan dalam penggunaan antibiotik pada manusia
atau binatang, dan tidak selesai nya pengobatan sesuai dengan yang telah dianjurkan
dokter. Selain itu, penyebab yang tak kalah penting dari sisi kesehatan
masyarakat ialah tingkat pengetahuan atau kesadaran masyarakat terkait
resistensi antibiotik itu sendiri dan availabilitas/peredaran antibiotik secara
luas. Berdasarkan data yang diperoleh dari survey multi negara yang salah satu
sampel nya negara Indonesia (Multi-country public
awareness survey, 2015) didapatkan data bahwa 84% masyarakat Indonesia
yang pernah mendengar istilah resistensi antibiotik, 81% diantaranya memiliki
pemahaman yang salah terkait resistensi antibiotic. Sebagian besar responden
mengira bahwa resistensi antibiotik merupakan suatu respon tubuh berupa
penolakan terhadap konsumsi antibiotik tertentu, namun sayangnya pendapat
tersebut tidak tepat. Minimnya sosialisasi yang berakibat pada ketidaktauan
tersebut juga dapat menjadi faktor penyebab yang meningkatkan kemungkinan
terjadi nya resistensi antibiotik di lingkungan masyarakat bersangkutan.
Menurut penelitian Lee Ventola mengenai resistensi antibiotik (2015)
menyebutkan bahwa ketersediaan jenis baru suatu antibiotik dan tingkat
kemudahan dalam mengakses merupakan salah satu faktor penyebab meningkatnya
resistensi antibiotik.
Menurut badan pengelola obat dan makanan amerika (US FDA:
Combating Antibiotic
Resistance, 2011), resistensi antibiotik dapat dicurigai
dengan adanya dampak atau tanda-tanda seperti lama nya durasi penyakit infeksi
yang diderita, munculnya komplikasi dari penyakit infeksi tersebut, maupun
semakin kuat atau tingginya dosis antibiotik/obat yang diberikan untuk
mengatasi penyakit infeksi yang bersangkutan. Kasus resistensi antibiotik yang
sering terjadi ialah antibiotik untuk penyaki infeksi umum seperti pneumonia,
infeksi saluran pencernaan, dll. Sementara itu, dampak yang paling mempengaruhi
kondisi kesehatan masyarakat akibat resistensi antibiotik ialah perpanjangan
masa sakit, masa rawat, dan peningkatan resiko kematian. Perpanjangan masa
sakit akibat resistensi antibiotik terutama jika terjadi di komunitas, dapat
menyebabkan penularan, sehingga resistensi antibiotick pun dapat tersebar
semakin luas lagi. Perpanjangan masa rawat akibat resistensi antibiotik juga
menyebabkan masalah terutama dalam hal biaya perawatan di rumah sakit.
Ketika telah merasakan dampak atau tanda-tanda resistensi
antibiotik yang menyebabkan penyakita anda semakin parah seperti telah
disebutkan diatas, dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga
kesehatan yang bersangkutan, US FDA tahun 2011 menyebutkan beberapa cara untuk
mencegah resistensi antibiotik seperti berikut 1) Menyelesaikan pengobatan
sesuai dengan yang telah dianjurkan oleh dokter, 2) Selalu teratur dalam
mengonsumsi antibiotik sesuai dengan resep obat yang diberikan, 3) Tidak
menyimpan antibiotik untuk digunakan ketika sakit kembali dikemudian hari
karena antibiotik dibuat untuk infeksi tertentu pada waktu tertentu, 4) Tidak
memberikan resep antibiotik diri sendiri maupun orang lain kepada orang yang
berbeda karena bisa jadi antibiotik tersebut tidak cocok, 5) Bicarakan dan
tanyakan pada tenaga pelayanan kesehatan professional terkait penggunaan
antibiotik terutama ketika adanya keraguan dalam mengonsumsi antibiotik tersebut.
Selain pencegahan secara individu
dan masyarakat, dr. Siswanto selaku Kepala
Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik, Badan Litbang
Kesehatan pada seminar nasional tanggal 22 Maret 2014 lalu menyatakan pada
presentasi nya bahwa tindak lanjut terkait kejadian resistensi antibiotic juga
penting dilakukan dari sisi pemerintah seperti 1) Perlu adanya
komite/pokja resistensi antibiotika yang beranggotakan lintas sektor 2) Perlu
dibuat roadmap untuk menangani resistensi AB, termasuk pengembangan AB baru 3)
Peningkatan surveilans terkait resistensi AB baik di faskes maupun komunitas 4)
Perlu adanya jejaring laboratorium-laboratorium Mikrobiologi 5) Perlu
komunikasi yang adekuat antara Komite Medik RS dengan hasil surveilans dan
hasil penelitian Tim PPRA (program pengendalian resistensi antimikroba) RS.
Setelah mengetahui berbagai penyebab
dan dampak yang disebabkan oleh resistensi antibiotic, diharapkan masyarakat
dapat sama-sama membangun kesadaran terkait resistensi antibiotic yang mungkin
saja terjadi pada diri sendiri dan keluarga, serta dapat membantu usaha-usaha
pemeintah untuk mengatasi masalah kesehatan yang satu ini.
Referensi:
Antimicrobial resistance: global
report on surveillance. (2014). [ebook]
Switzerland: WHO. Available at: http://www.who.int [Accessed 6 Dec. 2016].
Cdc.gov.
(2016). About Antimicrobial
Resistance | Antibiotic/Antimicrobial Resistance | CDC . [online] Available at:
https://www.cdc.gov/drugresistance/about.html [Accessed 5 Dec. 2016].
Centers for Disease Control and Prevention. (2016). The
Development of Antibiotic Resistance Bacteria. [online] Available at:
http://www.cdc.gov/getsmart/community/about/antibiotic-resistance-faqs.html
[Accessed 6 Dec. 2016].
Fda.gov. Combating Antibiotic
Resistance. (2016). [PDF] Available at:
http://www.fda.gov/downloads/ForConsumers/ConsumerUpdates/UCM143470.pdf
[Accessed 6 Dec. 2016.
NPS
MedicineWise. (2015). Antibiotic
resistance — what is it and why is it a problem?. [online] Available at:
http://www.nps.org.au/medicines/infections-and-infestations/antibiotics/for-individuals/what-is-antibiotic-resistance
[Accessed 25 Dec. 2016].
Siswanto.
Kajian Resistensi Antimikrobial dan Situasinya pada Manusia di Indonesia.
(2016). [PDF] Available at:
http://civas.net/cms/assets/uploads/2014/03/Kajian-Resistensi-Antimikrobial-dan-Situasinya-pada-Manusia-di-Indonesia.pdf
[Accessed 20 Dec. 2016].
Ventola CL. The Antibiotic Resistance Crisis: Part 1: Causes
and Threats. Pharmacy and
Therapeutics. 2015;40(4):277-283. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4378521/ [accessed 20 dec 2016]
WHO. Antibiotic resistance: Multi-country public
awareness survey. (2015). [PDF] Switzerland: WHO. Available at:
http://www.who.int [Accessed 6 Dec. 2016].
WHO. Antimicrobial resistance: Global Report on
Surveillance. (2014). [PDF] Switzerland: WHO. Available at: http://www.who.int
[Accessed 6 Dec. 2016].
WHO. Global Action Plan on Antimicrobial
Resistance. (2015). [PDF] Switzerland: WHO. Available at: http://www.who.int
[Accessed 6 Dec. 2016].


Comments
Post a Comment